KOTA Tape dan Kota Pensiun. Dua hal itulah yang menjadi identitas Bondowoso dan sudah tidak asing bagi masyarakat luas. Hal tersebut menurut Damba Sayyida Alam, bukannya harus menjadi sesuatu yang membuat minder, melainkan harus menjadi sebuah kebanggaan. "Harus bangga dengan identitas kota tape, kota pensiun. Karena belum tentu setiap daerah punya identitas," katanya.
Lingkungan Bondowoso Sangat Kondusif
Sejak bekerja di Bondowoso pada Januari lalu, teman-teman Damba pun langsung menyebut Bondowoso sebagai kota tape. "Kerja di mana, di Bondowoso kota tape," begitulah ucapan rekan-rekan Damba saat pengumuman penempatan kerja di Bank Jatim Bondowoso.Ada kalanya orang mengatakan makanana tape di anggap jajanan remeh-remeh dan murahan. Padahal, justru berkat tape Bondowoso kian terkenal. Bahkan saat orang luar kota merasakan tape Bondowoso, pasti kesannya yahud.
Sehingga, menurutnya alangkah baiknya jangan sampai orang Bondowoso, termasuk juga pemerintahnya meninggalkan sebutan Bondowoso kota tape. Menurut dia sebuah identitas itu penting karena bisa punya bergaining power yang palingtidak gampang diingat.
Karena tinggal di Kota Tape, dara asal Lumajang ini juga merasa memiliki kebanggaan kepada Bondowoso. Kebanggannya karena kota Bondowoso tidak hanya terkenal sebagai kota tapenya saja, tetapi juga terkenal dengan identitas kota pensiun. Banyak orang mengatakan hal miring dengan sebutan kota pensiun itu, justru menurut Damba adalah sebutan kota pensiun itu positif. "Ngapain harus malu disebut kota pensiun," katanya.
Justru namanya kota pensiun dapat meningkatkan pariwisata Bondowoso yang kini lagi gencar promosi. Sebab, namanya pensiun berarti sebuah daerah itun tenang, nyaman, bebas macet, rindang, sejuk, banyak bangunan tua bediri serta bayangannya banyak villa untuk para pensiunan. Terlebih lagi punya hubungan sama dengan potensi wisata Bondowoso yang berbalut dengan alam.
Perempuan kelahiran 30 September 1992 ini menuturkan, untuk orang yang pertama kali tinggal di Bondowoso, pasti bilang kota mati. "Itu wajar saja. Awalnya saya juga berpikir seperti itu. Tapi lama-lamaan justru nyaman tinggal di kota ini," ungkapnya. Yang membuatnya betah ada di kota Gerbong Maut ini karena bisa terbebas dari hiruk pikuk perkotaan. Lebih dari itu adalah kondisi masyarakatnya.
Dia mencontohkan lingkungan kerja di Bondowoso begitu kondusif, rasa kekeluargaannya yang tinggi dan saling memperhatikan satu sama lain. Sehingga siapa saja kerja di Bondowoso selalu ngangenin. Masyarakat Bondowoso pun juga begitu kekeluargaan juga terasa. Salah contohnya, tambah Damba, adalah menyapa dengan warga baru.
Damba pun juga takjub Bondowoso yang tenang seperti ini acaranya juga menarik, unik dan penuh kreatifitas. Salah satu contohnya adalah ada hijab on the streat. "Di kota besar saja tidak ada event jelang berbuka acara seperti modelling hijab di jalanan," tambah alumnus Universitas Malang ini.
Menurut Damba yang perlu ditingkatkan adalah identitas Ijen ada di Bondowoso. "Dulu saya mengira Ijen ini si Banyuwangi. Ternyata ada di Bondowoso," katanya. Sebab Ijen sudah termasuk pariwisata internasional, sehingga bisa mengangkat pariwisata di Bondowoso. Salah satu adanya dampak dalam bidang pariwisata, kata Damba adalah gampangnya menjumpai turits di Bondowoso. Sehingga alangkah baiknya orang Bondowoso bisa berbahasa Inggris. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos Radar Ijen, 22 Juni 2016
Disalin Kemabli oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar