OLAHRAGA adalah salah satu langkah untuk sehat. Itulah mengapa Agustina Wahyuningsih hobi berolahraga. Selepas menyelesaikan pendidikan di STIE YKPN Yogjakarta, dara asal Perum Kademangan Indah, Jalan Kalimantan No 85, Kademangan ini seringkali berolahraga. Paling banyak adalah olahraga dengan sepedanya.
Seperti pekan lalu, dirinya sengaja bersepeda mengitari wilayah kota Bondowoso. Setelah empat tahun menghabiskan waktu di Yogjakarta, dia ingin melepas kangen dengan kota yang kini terkenal sebagai Republik Kopi ini. Kebetulan akhir pekan, itu dia bersama seorang temennya. "Enak suasananya," tutur perempuan yang hobi travelling tersebut.
Ikut Ekstra Itu Bikin Lebih Mandiri
"Waktu kecil sudah dibiasakan mandiri, menyiapkan kebutuhan sekolah sendiri. Berangkat dan pulang sekolah juga tidak di antar," ungkapnya. Padahal, melianta adalah anak semata wayang orang tuanya.Meski, sering berinteraksi dengan neneknya serta saudaranya, tak membuatnya menyesal. Justru dia bersyukur interaksi banyak orang semakin lebih mandiri dan berfikir lebih logis. Ya jika tinggal bersama orang tua saja, hanya perkataan dan nasehat huruf A saja yang didapat. Namun bersama nenek, saudara dan tante, perkataan dan nasehat tidak selalu A dan B hingga Z. Sehingga membuat Melianta berfikir sendiri mana yang terbaik dari sekian nasehat.
Sehingga, kata dia, membuat dia makin bijak dalam berfikir, dan mengerti mana yang terbaik dari semua yang baik. "Kalau memilih baik dan buruk itu gampang. Tapi memilih hal yang terbaik dari semua yang terbaik tidak mudah," kata alumnus SMKN 1 Bondowoso ini.
Melianta merasa orang tua saat ini terlalu kwatir terhadap anaknya. Sebab, anak SD sekarang berangkat sekolah dan pulang sekolah selalu diantar. Padahal, dengan pulang jalan kaki mereka bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan membiasakan mereka bergerak agar tidak malas. Jika anak tak terbiasa bergerak tau berjalan kaki, tumbuh kembang anak juga tak baik sehingga ujungnya mereka lebih suka bermain sendiri di rumah.
Menurut darah kelahiran 26 Januarai 1995 ini, pendidikan agar anak mandiri dan bisa memilih yang terbaik dari semua yang baik ada pendidikan pondok kepesantren (ponpes). Di ponpes santrinya akan di tempa hidup lebih mandiri, penuh tanggung jawab dan mampu survive dengan teman yang baru dan lingkungan yang baru pula.
Untuk pendidikan seperti SMP atau SMA agar bisa lebih mandiri, lebih arahkan ke kegiatan ekstrakulikuler. Disana pun dapat pelajaran berharga rasanya berkompetisi sehingga terus belajar lebih baik tidak hanya skill tapi juga sikap. "Apapun ekstrakulikulernya semua baik, tidak ada yang mengajarkan kejelekan. Jika tidak suka dengan pengajar atau temannya, dinamika hidup. Semua pasti akan jumpa yang namanya pertentangan," punkasnya perempuan asal Tamanan ini. (dwi/wah)
Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 21 juli 2016
Disalin Kembali Oleh: (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar