
KOPI tak selalu identik dengan laki-laki. Perempuan juga tak ada larangan untuk meminum kopi. Apalagi di negara-negara maju, budaya ngopi dilakukan sebelum mengadakan rapat-rapat penting. Demikian disampaikan Ika Yulia, seorang guru Fisika yang juga menggeluti bisnis kopi.
Pengalaman selama ini, sunguhan kopi selalu untuk tamu laki-laki sedangkan perempuan adalah teh. "Kalau perempuan bertamu mengapa teh," katanya. Padahal, perempuan juga punya hak yang sama menikmati kopi. Sehingga emansipasi perempuan juga termasuk untuk minum kopi.
Jika ditelisik dari sejarah memang masyarakat pribumi tidak boleh minum kopi. "Kopi itu hanya boleh untuk bangsawan kerajaan atau penjajah, sekarang kan sudah merdeka," katanya.
Maka tak salah di Sumatera muncul kopi dari seduhan daun kopi, dan muncul pula kopi luwak.
"Kopi luwak gara-gara saking kepinginnya pekerjaan kebun kopi zaman kolinial Belanda minum kopi," katanya.
Persepsi masyarakat anak perempuan tak minum kopi juga pengaruh dari keluarga. "Anak kecil gak boleh minum, sudah dewasa melihat perempuan minum kopi masyarakat menilai hal aneh," ujarnya. Padahal menurut Ika, kopi ini nikmat menyehatkan dan tak salah harganya lebih mahal dari pada teh.
Dia mencobakan kopi ini menyehatkan dan bermanfaat, setiap kantor besar di negara maju mengharuskan karyawannya untuk ngopi dulu sebelum memulai rapat. Sehingga ini bukti bahwa kopi itu positif untuk tubuh. Tapi bagi, Ika sesuatu yang berlebihan tidak baik. Maka, minum kopi terlalu banyak juga tak baik. Apalagi kopi sachetan, tidak jadi rekomendasi Ika sebagai minuman yang bermanfaat.
Alumnus Unmuh Malang yang kini juga sebagai guru Fisika di SMON Sukosari ini mengaku banyak mahasiswa Bondowoso kuliah di kampus ternama namun enggan kembali ke kotanya. Apalagi, kata Ika, kembali ke Bondowoso untuk membantu pekerjaan orang tuanya yang bergelut di dunia cocok tanam. "Pemikiran anak muda sekarang jadi PNS, pegawai, dan untuk bisnis ke dunia yang keren-keren saja," paparnya.
Padahal, menurut Ika, dunia pertanian, perkebunan dan perikanan perlu sentuhan anak muda. "Pertanian ini tidak harus cangkul," katanya. Dari pengalamannya Ika yang membantu orang tuanya di bidang perkopian adalah lewat pemasaran.
Ya menurut usaha pemasaran begitu penting, apalagi di era saat ini pemasaran terus update. "Kalau orang tua tidak tahu teknologi pemasaran lewat dunia maya. Sehingga perlu sentuhan pemuda," ujarnya. Terlebih lagi mereka yang lulusan kampus ternama, punya jaringan lebih luas lagi untuk memasarkan produk hasil bumi. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos Radar Ijen, 26 Juli 2016
disalin oleh : (er)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar