Sabtu, 04 Februari 2017

Sempatkan untuk Ngaji

DIBALIK Penampilan yang tomboy, Bripda Ria Dwinansari, anggota Polwan Polres Bondowoso ini ternyata hebat hal ngaji. Tak salah dia menjadi wakil dari Bondowoso mengikuti lomba tartil Alquran se Polda Jatim. Meski, tidak mendapatkan juara setidaknya dia bisa membuktikan sebagai anggota Polri namanya kerohanian tidak dilupakan.

Perempuan asal Bondowoso ini mengaku bersyukur sekolah di TK dan SD Islam. Sebab dari sana pembekalan agama didapat dari sekolah. "Saya bisa ngaji seperti ini sudah didik dari TK hingga SD, kebetulan di At-Taqwa," katanya.

Ingin Bondowoso Maju Tapi Tetap Aganis

Pada dasarnya untkuk mengaji orang Bondowoso punya basic yang cukup, terlebih bagi anak-anak. Hampir dipastikan, kata Ria, tidak anak muslim Bondowoso tidak ada yang bisa mengaji. "Ini poin plus di Bondowos, di tengah-tengah perkembangan zaman dan teknologi. anak Bondowoso tetap senagng ngaji. Di kota besar tidak selalu anak kecil bisa ngaji," jelasnya.
Apalagi,tambah Ria, anak-anak suka ngajin ini seperti bermain saja. Bahkan, sebelum ngaji dimulai mereka datang terlebih dahulu untuk bermain, sehingga tidak mengaji rasanya tidak bisa bermain dan bertemu teman-teman.
Menurut Ria, ngaji mulai ditinggalkan saat duduk di bangku SMP. "Rata-rata teman saya begitu saat SMP jarang ngaji," katanya. Menagapa hal iu terjadi, menurut aumnus SMPM 1 ini, karena ada hal yang baru dan menarik. Dia mencontohkan adalah kegiatan ekstrakulikuler yang mengasyikkan dari pada sekedar mengaji. Namun, semua itu juga tidak bisaa disalahkan dari kegiatan sekolah yang menarik. Sebab, namanaya anak yang berusia belasan tahun tersebut rasanya penasarannya tinggi. Ria pun juga terlalu asyik di dsunia baru, yakni basket. "Saya ikut basker dari SMP hingga SMA> Dan pewrnah masuk tim Pra Porprov Bondowos," imbuh alumnus SMAN 2 tersebut. Lantas bagaimana Ria terus mengaji di tengah-tengah kegiatan yang asket.
Jawaban Polwan 19 tahun ini pun cukup singkat, yakni menagji setelah shalat magrib. Menurut Ria namanaya ngaji sama seperti membaca ataupun menulis. Jika, tidak pernah dilakukan lama-kelamaan akan kik kuk sehingga dia menyempatkan untuik mengaji.
Apalagi ngaji pun semakin mudah. Sebab ada alikasi di handpone, beserta terjemahan dan suara. Sehingga lupa lafalnya bisa mendengar hafal yang benar seperti apa. Dia berharap Bondowoso yang ingin maju, untuk masalah agamna tidak berubah. Karena, daerah semakin maju masalah kerohanian yang mundur. Tak hanya peran dari orang tua, sekolah atau perintah saja. Lebih penting kata Ria, adalah lingkungan. Karena namanya anak muda yang rajin ibadah baik shalat atau ngaji justru di bully, padahal itu positif. (dwi/wah)



Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 15 Juni 2016


Ditulis Oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar