Kamis, 02 Februari 2017
Bidan Desa harus Tangguh
MENJADI bidan di desa, membuat banyak pengalaman hidup. Itulah yang diamali Steva FAula Sufha. Setelah lulus sekolah kebidanan, dia mngabdi menjadi bidan desa di Desa Petung, Pakem. Di tempat yang jauh dari kota itu, dia mendapat bebrapa pengalaman menarik.
Salah satu pengalamn menariknya adlah ketika menjalankan program vaksin imunisasi. Pernah suatu ketika, ada orang tua yang membawa anaknya untuk diimunisasi. Setelah diimunisasi, biasanya bayi memang menjadi panas. "Nah ini ternyata tidak semua paham," jelasnya.
Imunisasi ke Tempat Terpencil
Jarak bebrapa jam, rupanya bayi yang divaksin itu benar-benar panas. Akhirnya ayah sang bayi kembali kepadanya sambil marah buka kepalang. Ayah bayi tersebut marah karena setelah disuntik, anaknya menjadi demam dan nagis terus-menerus. " Padahal itu kan menjadi efek yang wajar ketika orang diberi vaksin imunisasi," tegasnya.
Walau bagaimanapun, dia tetap meladeni orang tua tersebut. Akhirnya, semalaman Steva merawat bayi tersebut. Sebab sempat dibawa ke puskesmas, namun disuruh menginap. Akhirnya Steva ikut merawatnya sampai pagi. Baru pagi hari kondisinya mendingan.
Namun, dia sadar itulah perjuangan. Sebab tidak semua paham tentang efek samping imunasasi. Sedari kejadian itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, sehingga tidak terjadi lagi sesuatu yang luar dugaan.
Sementara memasuki ramadan tahun ini, Steva tidak berleha-leha. Dia bersama kepala puskesmas Pakem, melakukan imunisasi di tempat terpencil. " Ada desa yang sangat terpencil," jelasnya. Tempat terpencil itu adalah tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mobil sehingga untuk kesana harus memakai motor
Dalam mas apuasa ramadan, dirinya mengaku siap-siap saja menjalankan program itu. Sebab hidup sebagai bidan desa, diniatkan untuk pengabdian ke masyarakat. Hanya saja memang ketika tinggal di desa, single parent ini merasa jenuh. "Kalau saya jenuh, seringkali saya mencari hiburan keluar," akunya.
Seperti ramadan ini, saat berbuka dia bersama anaknya memilih tempat berbuka yang enak. kadang dia memilih tempat di daerah kota. Setelah berbuka, dia kembali ke Desa Petung, pakem. "Harapan saya bisa menjalankan ibadah dengan sempurna dan tenang, itu saja," jelasnya. (hud/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen Jum'at, 10 Juni 2016
Ditulis ulang oleh : (nbl)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar