Jumat, 17 Februari 2017

Cinta Fashion dan Alam


TERCATAT sebagai siswa SMAN Tamanan, tak membua Meidy Tri Asparingga setiap harinya berkutat sekolah rumah. Dia pun juga bergelut di beragam hobi dan mencoba mempertahankan anugerah yang ada di Bondowoso. Perempuan kelahiran Bondowoso 17 Mei 1998, punya hobi di bidang fashion dan broadcasting. Tak salah jika perhelatan fashion hijab sebelum lebaran di Monumen Gerbong Mau, dia pun ikut berjalan di atas karpet merah."Suka foto-foto, karena sempat ikut ekstrakulikuler broadcasting juga di SMA, katanya.



Kebersihan jadi Tanggung Jawab Bersama

Di balik dua hobinya tersebut, siapa sangka Meidy adalah anak pecinta alam. Dalam hati Meidy ke hal-hal yang berbau alam tak akan dilupakannya dan jadi hidup semakin hidup berkat alam. Salam lestari dan salam lestari, inilah salam jargon dari anak pecinta alam."Kalau sekarang Bondowoso ini sejuk dan rindang. Jika orang mengatakan Bondowoso ini lestari, seharusnya 10 tahun bahkan 30 tahun depan tetap seperti itu," ucap Meidy.
Alam yang terus lestari, bagi Meidy rasa sulit untuk tetap seperti itu sebab, dari tahun ke tahun jumlah penduduk semakin bertambah. Sehingga otomatis akan ada pembukaan lahan untuk rumah-rumah penduduk. Belum lagi masalah ke butuhan pangan yang juga meningkatkan seiring dengan makin bertambahnya orang. Maka, wajar di sana-sini terjadi pembukaan lahan.

Namun sebagai pecinta alam, tidak ingin seperti itu tapi juga kebutuhan masyarakat juga harus terpenuhi. Salah satu contohnya adalah setiap rumah baru sebaiknya ada pohon yang menaungi.

Meidy masih ingat ketika masih duduk di SD, diajarkan satu orang itu menanam pohon hingga dewasa. Nyatanya itu sulit diaplikasikan, dan lagi-lagi orang tua harus mensukseskan ajarkan anak mencintai lingkungan dan alam. Untuk orang kota menerapkan anak-anak harus merawat pohon hingga besar nanti, rasanya bakal sulit."Ya karena ada keterbatasan lahan di kota, kalau di Bondowoso sebaiknya bisa menjalankan satu orang tanam satu pohon atau satu rumah satu pohon,"ujarnya.

Alam Bondowoso yang menyediakan anugerah sedemikian rupa, membuat orang makin betah di Bondowoso dan membuat pariwisata Bondowoso makin menarik. Sayangnya, kata Meidy, untuk kebersihan tidak teratur. Salah satu yang bikin mata tak sedap di destinasikan pariwisata adalah persoalan sampah. Ya, jika setiap banyak para wisatawan mengapa selalu sampah jadi peroalan.

Agar pariwisata Bondowoso ini bersih dari sampah, bukan pengelola atau pemerintahan saja yang bertanggung jawab. Tapi yang pertama adalah orang Bondowoso sendiri, sebab selama masyarakat selalu mengandalkan pemerintah saja. Jika masyarakat turut mensukseskan kesadaran terhadap sampah, maka secara terus menerus alam terjaga. (dwi/wah)

Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 30 Juli 2016
disalin kembali oleh :(JSR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar